Senin, 01 September 2014

Kenapa Jamu Harus Lestari?


Saya tidak suka jamu. Asal ketidaksukaan saya pada jamu sepele. Saya masih ingat waktu kecil pernah sakit, paman saya membelikan jamu. “Glek langsung, minum semua dalam sekali teguk” kata paman memberi tips sewaktu menyerahkan jamu kental yang ia seduh.

Saya mengikuti saran paman, sayang hasilnya tidak sesuai harapan. Sebelum sempat ditelan, jamu yang memenuhi mulut keburu saya muntahkan. Sejak saat itu saya anti dengan jamu-jamuan karena terekam dalam benak saya “jamu itu pahit sekali dan baunya tidak enak, titik”.

Sampai pada saat liburan kuliah saya berkunjung ke desa nenek. Kejadiannya seperti Deja Vu ketika saya sakit demam hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur. Rumah nenek jauh dari puskesmas, sekitar 3 km ditambah kondisi jalanan jelek. Saat itu belum banyak motor seperti sekarang, karena itulah nenek membuatkan jamu untuk saya.
Lumpang, Alat Untuk Meracik Jamu Nenek
Kalau saja bukan nenek yang membuatkan, dipaksa pun saya tidak akan mau minum jamu itu. Sambil memencet hidung saya paksakan minum, di luar dugaan jamu buatan nenek ternyata tidak pahit, malah manis dan enak. Seusai minum jamu buatan nenek tenggorokan dan perut saya terasa hangat, tidur saya nyenyak, badan terasa segar keesokan harinya. Sekitar 3 hari kemudian saya sembuh, dan sejak saat itu berubah menjadi penggemar jamu fanatik. 

Jadi kalau kepada saya diajukan pertanyaan “pentingkah melestarikan jamu?” Jawabannya, jelas penting! Namun demikian, mari kita telusuri beberapa alasan kenapa jamu harus lestari agar opini itu tidak menjadi klaim tanpa dasar.

1. Jamu itu enak

Ehm,... Saya jadi malu pernah beranggapan jamu itu pahit dan tidak enak. Bukan karena sekarang saya penikmat jamu, tapi jamu memang beraneka jenis dengan berbagai ragam rasanya.

Kemajuan pengolahan jamu juga menjadikan jamu, terutama untuk anak-anak, bisa ditambahkan rasa yang enak seperti strawberry atau jeruk. Tetapi jamu seperti Jamu Kunyit Asam yang bermanfaat bagi wanita datang bulan, menjaga berat badan, serta menyembuhkan infeksi, terbuat dari campuran bahan Kunyit, Asam, Jeruk Nipis, Madu, dicampur air, tanpa tambahan rasa pun tetap merupakan minuman yang enak. Jadi melestarikan jamu berarti juga melestarikan kekayaan kuliner yang dimiliki bangsa ini.


2. Jamu itu menyehatkan

Nah,... kalau ini pasti, fungsi utama jamu memang untuk mengobati berbagai penyakit.  Jamu adalah obat yang terbuat dari bahan-bahan alami. Karena itu, berbeda dengan obat kimia sintetis jamu relatif tidak memiliki efek samping berbahaya.  

Siapa yang bisa menolak minuman/makanan enak sekaligus menyehatkan badan? Kita bisa rutin setiap hari minum jamu, minum sebanyak yang kita suka tanpa khawatir over dosis dan memikirkan dampak negatif terhadap tubuh. Tentunya selama dalam batas wajar, karena kalau berlebihan apa pun pasti tidak baik. Misalkan sampai minum Jamu Beras Kencur 5 liter sehari bisa saja timbul hal yang tidak diinginkan.
Jamu Enak Dan Menyehatkan, Peraih Medali Emas Olimpiade Pun Minum Jamu


3. Jamu itu modern

Kalau ada orang beranggapan jamu kuno, bisa dipastikan orang itulah yang ketinggalan zaman. Jamu sekarang tidak hanya bisa kita temui di pasar tradisional. Jamu sekarang diolah dengan cara modern, sangat higienis, memiliki standar mutu ketat, dikemas dengan rapi dalam bentuk cair, tablet, bubuk sampai permen, dan bisa kita temui di pusat perbelanjaan modern.

Dibandingkan obat kimia sintetik, ditinjau dari beberapa sisi jamu terbukti lebih baik karena terbuat dari bahan alami. Beberapa perusahaan farmasi bahkan mulai mengembangkan jamu sebagai cabang bisnis baru. Dari situlah muncul istilah obat herbal yang terstandar, yaitu jenis jamu yang sudah melewati uji klinis dan terbukti memiliki khasiat khusus. Jadi sangat keliru kalau masih ada yang beranggapan jamu kuno, karena jamu adalah salah satu produk peradaban adi luhung bangsa Indonesia yang berkembang mengikuti modernisasi.

Jamu Dan Obat Herbal Tersandar


4. Jamu itu multi fungsi

Ini juga membuat saya malu, karena ternyata tidak semua jamu berbau kurang enak. Ada juga jamu yang wangi, sebagian jamu bahkan juga bermanfaat untuk menghilangkan bau badan. 

Eits,... tidak cukup sampai di situ. Fungsi jamu pun beragam dalam kehidupan. Ada jamu yang berfungsi sebagai pewangi mulut alami, suplemen penambah nafsu makan, untuk kosmetik atau kecantikan, multi vitamin yang membuat badan lebih bugar, dan sebagainya. Saya terkenang wedang jahe bubuk yang jadi bekal kawan saya mendaki Gunung Gede, ternyata itu menjadi minuman paling nikmat dan menjadi rebutan di puncak gunung. Itu karena jahe mengandung minyak atsiri tinggi yang bisa menghangatkan tubuh. Melihat berbagai manfaat dan fungsinya, dipikirkan bagaimana pun, kesimpulannya wajib sekali untuk melestarikan jamu.


5. Jamu itu aset bangsa

Industri obat-obatan herbal dunia diperkirakan bernilai 62 Milyar dollar Amerika. Jamu adalah salah satu kekayaan obat herbal buah kearifan lokal yang bernilai sangat tinggi dan tidak dimiliki bangsa lain, sehingga merupakan aset yang harus dijaga.

Kelestarian dan pengembangan jamu sangat penting agar di masa depan Indonesia mampu berkiprah di pasar obat herbal dunia. Melestarikan jamu juga berarti melestarikan sumber obat masa depan untuk berbagai penyakit yang belum ditemukan obatnya. 

6. Jamu itu pengetahuan

Mempelajari jamu itu bukan aktivitas remeh loh. Ada ilmuwan yang meraih gelar doktor hanya dengan mempelajari ramuan jamu. Penelitian ramuan jamu saat ini tengah dikembangkan di berbagai laboratorium dan lembaga ilmu pengetahuan. 

Belum lagi jika kita mempelajari aspek sejarah, pemasaran, teknologi pengolahan, industri, ragam jenis jamu, serta aspek lainnya, ada banyak sekali hal-hal berkaitan dengan jamu yang membutuhkan penelitian lebih mendalam. Karena itulah, melestarikan jamu sesungguhnya juga mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa.


7. Jamu itu menyejahterakan

Pernahkah terpikirkan berapa banyak penjual jamu gendong di negara kita? Berapa banyak rakyat yang hidup dari jamu? Jika kita amati perkembangan industri jamu akhir-akhir ini, berapa banyak pemilik perusahaan dan pekerja yang hidup dari industri jamu? Belum terhitung distributor, apotik, biro iklan jamu, hingga penjual eceran.

Bahkan saat ini jamu telah menjadi komoditas ekspor dan telah merambah berbagai belahan dunia, sehingga jamu turut menghasilkan devisa bagi negara. Ternyata jamu telah menjadi sumber penghidupan begitu banyak orang, maka  sudah sewajarnya jika kita melestarikan jamu karena telah menjadi sarana meningkatnya kesejahteraan bangsa.

Produk Jamu Berdampingan Dengan Obat farmasi Di Salah Satu Mini Market


8. Jamu itu melestarikan

Kalimat itu bukan sengaja dibalik dari frase “melestarikan jamu”. Karena jamu dibuat dari berbagai bahan alami, maka ada banyak jenis tanaman dan material yang menjadi bahan baku ramuan jamu yang harus dilestarikan. Jadi dengan melestarikan jamu kita turut berperan melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia.

Sayangnya berbagai tanaman, hewan, beserta khasiatnya sebagai bahan jamu belum seluruhnya terdata dengan baik. Pendataan ini sangat penting untuk pengembangan dan pemanfaatan jamu secara optimal. Siapa sangka kalau tanaman yang kita temui sehari-hari ternyata memiliki manfaat yang sangat besar. Misalkan Singkong yang memiliki manfaat mengobati rematik, demam, sakit kepala, diare, cacingan, luka bernanah, luka karena panas, memulihkan gangguan pandangan, dan meningkatkan nafsu makan.

Mau tidak mau ketika ingin melestarikan suatu jenis jamu, ada konsekuensi untuk mendata dan menjaga kelestarian bahan bakunya. Karena itulah, kehadiran lembaga semacam Biofarmaka IPB yang berfokus pada kegiatan pelestarian jamu dan tanaman obat memiliki makna yang sangat penting.


9. Jamu itu salah satu peninggalan nenek saya

Ini alasan yang sangat pribadi. Karena satu hal yang saya sesalkan tidak sempat mengetahui ramuan jamu yang diberikan nenek saya sewaktu saya sakit demam. Dari rasa yang saya ingat hanya ada Jahe dan Jeruk Nipis, lainnya saya tidak tahu. Karena alasan itulah, bagi saya melestarikan jamu bagian dari cinta dan usaha menjaga warisan leluhur. Mungkin cinta itulah sebenarnya alasan terpenting kita melestarikan jamu.
Alasan Melestarikan Jamu


Sembilan alasan di atas hanya sebagian kecil kenapa melestarikan jamu itu sangat penting. Pembaca bisa menambahkan alasan ke-10, 11, 12 dan seterusnya untuk setiap alasan pribadi anda melestarikan jamu. Karena saya yakin ada sebagian pembaca yang pernah memiliki pengalaman berkesan dengan jamu.

Semoga dengan banyaknya alasan kita melestarikan jamu, maka jamu yang kita cintai ini semakin dikenal dunia dan lestari hingga anak cucu. Sebab sesungguhnya kelestarian jamu sebagai kekayaan Indonesia tergantung pada peran serta setiap orang. Jadi ayo kita sama-sama melestarikan jamu, minimal dengan mengkonsumsinya, mempelajarinya atau menyebarkan informasi yang benar tentang jamu melalui media sosial. 

Bogor, 1 September 2014
Ditulis untuk lomba penulisan Artikel Jamu 2014 yang diselenggarakan Biofarmaka IPB.
Ilustrasi dan foto merupakan karya asli penulis, tanpa melanggar hak cipta pihak manapun.

Bahan Rujukan Tulisan

5 komentar:

  1. terima kasih mbak Tiest. :) wah,.. ada hubungan famili sama Pak Mahfud MD?

    BalasHapus
  2. Selamat, akhirnya menjadi penikmat jamu yang bagi sebagian orang dianggap ketinggalan jaman. Salam kenal ya... Silahkan mampir juga di blog saya http://sulistyoriniberbagi.blogspot.com/2014/08/melestarikan-jamu-memajukan-budaya.html

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas kunjungannya Mbak Rini, terima kasih juga bagi ilmunya, segera meluncur ke lokasi.

    BalasHapus